Rabu, 18 April 2012

cognitive behaviour modifikasi




KASUS COGNITIVE BEHAVIOUR MODIFICATION

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Tidak sedikit orang  yang mengalami ketakutan berlebih (phobia), kecemasan dan segala perilaku yang tidak adaptif  terhadap suatu hal. Sebut saja mereka yang memiliki ketakutan berlebih  terhadap ketinggian, phobia terhadap hewan-hewan tertentu bahkan terhadap benda mati sekalipun. Dalam hal ini kelompok membahas mengenai ketakutan berlebih terhadap gambar pocong. Klien yang menunjukkan perilaku tidak adaptif dengan mimik ketakutan, menjerit dan segala perilaku berlebihan yang lain. Oleh karena itu kelompok kami melakukan modifikasi perilaku-kognitif terhadap klien, agar dapat mengurangi perilaku tidak adaptifnya sehingga secara otomatis dapat menghilangkan phobia tersebut. Teknik/ prosedur yang digunakan diantaranya :
1.      Cognitive restructuring
Yaitu perilaku kognitif dengan berpikir, pernyataan diri/ self statement, dan pembentukan self talk positif (dimana hasil pemikiran subjek/klien terhadap kecemasan atau ketakutan yang dialami diarahkan untuk menjadi lebih positif)
2.      Terapi kognitif
Digunakan untuk membantu individu merubah pikiran-pikiran yang menyimpang atau self-talk.
3.      Pelatihan keterampilan Coping Stres
Terapis mengajarkan klien self-statement yang spesifik yang dapat mereka buat pada suatu situasi yang bermasalah untuk mengembangkan tingkah laku mereka atau mempengaruhi perilaku mereka pada situasi.
Disamping penggunaan tiga (3) prosedur modifikasi perilaku kognitif tersebut, kelompok juga menggunakan gabungan teknik desentisisasi Vivo dan desentisisasi sistematis.
Meichenbaum   yang   merupakan   seorang  tokoh   yang   berpengaruh   di   dalam modifikasi perilaku-kognitif     (Ivey,   1993) mengemukakan pandangannya bahwa  modifikasi perilaku-kognitif dilakukan berkenaan untuk menolong klien mendefinisikan problem kognitif dan perilakunya, dengan mengembangkan kognisi, emosi, perubahan perilaku dan mencegah kambuh kembali.
         Adapun asumsi yang mendasari modifikasi perilaku kognitif adalah:
1.      Kognisi yang tidak adaptif mengarah pada pembentukan tingkah laku yang tidak adaptif pula
2.      Peningkatan  diri  yang adaptif dapat ditempuh melalui   peningkatan pemikiran yang  positif
3.      Klien dapat   mempelajari     peningkatan   pemikiran       mengenai     sikap,   pikiran,  dan tingkah laku.
         Jadi, dari penjelasan di atas, secara singkat modifikasi perilaku-kognitif dapat diartikan sebagai suatu teknik yang secara simultan berusaha memperkuat timbulnya
perilaku   adaptif   dan   memperlemah   timbulnya   perilaku   yang   tidak   adaptif   melalui pemahaman proses internal yaitu aspek kognisi tentang pikiran yang kurang rasional dan upaya pelatihan ketrampilan coping yang sesuai.

B.     PERMASALAHAN

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka pelaksanaan modifikasi perilaku – kognitif  ini dimaksudkan untuk mengatasi/ mengurangi ketakutan yang berlebih terhadap gambar pocong pada klien.
Harapan terapis dalam modifikasi perilaku ini adalah :
1.      Terdapat kepercayaan klien terhadap keberhasilan terapis dalam teknik modifikasi yang akan diberikan untuk mengatasi phobianya
2.      Dapat bermanfaat sebagai teknik yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku tidak adaptif, misal ketakutan berlebih oleh klien, teriak dan cemas terhadap objek yang ditakuti.
C.     RANCANGAN MODIFIKASI PERILAKU - KOGNITIF
Berikut adalah prosedur yang digunakan dalam teknik modifikasi perilaku- kognitif, diantaranya :
a.      Cognitive Restructuring
       Yaitu perilaku kognitif dengan berpikir, pernyataan diri/ self statement, dan pembentukan self talk positif (dimana hasil pemikiran subjek/klien terhadap kecemasan atau ketakutan yang dialami diarahkan untuk menjadi lebih positif)
Meliputi 3 langkah dasar yaitu:
  1. Membantu klien mengidentifikasi perilaku-perilaku dan situasi yang tidak menyenangkan yang terjadi dengan menanyakan penyebab dan situasi penyebab ketakutan berlebih muncul.
  2. Membantu klien mengidentifikasi respon emosional, mood yang kurang menyenangkan, atau perilaku masalah yang mengikuti pikiran-pikiran yang mengganggu
  3. Membantu klien untuk berhenti berpikir tentang pikiran-pikiran yang mengganggu atau membantu klien berpikir lebih rasional atau pikiran yang diinginkan.
No.
Situasi
Pikiran/ gagasan
Hasil Perilaku/ emosional
Pikiran Rasional
1.
Takut ketika melihat gambar pocong
“Oh Tuhan Yesus!gak mau, gak mau. Aku takut rekk, wes-wes matanya  ngawasi aku”.
Tegang, tidak tenang, menjerit, takut berlebihan
gambar pocong itu hanya sebuah bentuk dari benda mati yang bukan wujud langsung. Dan pocong gak ganggu orang kok..

b. Terapi kognitif
Sebagai bagian dari treatment untuk depresi, namun dalam modifikasi perilaku ini  digunakan untuk membantu individu merubah pikiran-pikiran yang menyimpang atau self-talk. Dapat dilakukan dengan menggunakan cognitive restructuring untuk membantu individu merubah cara berpikir yang menyimpang.
c. Pelatihan Keterampilan Coping Kognitif
Terapis mengajarkan klien self-statement yang spesifik yang dapat mereka buat pada suatu situasi yang bermasalah untuk mengembangkan tingkah laku mereka atau mempengaruhi perilaku mereka pada situasi yang menimbulkan ketakutan berlebih.

D.  PEMBAHASAN
Dalam modifikasi perilaku- kognitif ini, kelompok menggunakan prosedur-prosedur modifikasi perilaku-kognitif :
1.      Cognitive restructuring
Yaitu membangun perilaku kognitif dengan berpikir, self statement, dan self talk. Dengan cara :
a.       Membantu klien mengidentifikasi perilaku dan situasi yang tidak menyenangkan. Kelompok menggali informasi terlebih dahulu dengan menanyakan apa penyebab timbulnya ketakutan berlebih terhadap gambar pocong dan situasi seperti apa yang menimbulkan takut terhadap gambar pocong . Klien memaparkan bahwa dia takut dengan gambar pocong berawal dari melayat untuk tetangganya yang beragama islam, sejak saat itu klien selalu membayangkan sosok hantu adalah sesosok pocong. Hal itu dimulai saat dia dalam  situasi kesendirian (loneliness) di rumah, klien selalu membayangkan ada sosok pocong didekatnya, sehingga terbawa mimpi dengan diperkuat oleh klien yang melihat film yang terdapat cerita pocong di dalamnya. Dengan latar belakang tersebut sampai sebelum dilakukan modifikasi klien merasakan ketakutan berlebih terhadap sesuatu yang menggambarkan adanya sosok pocong.
b.      Membantu mengidentifikasi respon emosional yang mengakibatkan pikiran mengganggu.
Terapis berusaha memaparkan respon berlebih yang ditunjukkan oleh klien saat melihat gambar pocong, misal ketakutan berlebih, teriak dan cemas oleh klien. Sehingga klien menyadari sikap/ perilaku tidak adaptif.
c.       Membantu klien untuk menghilangkan pikiran mengganggu dan lebih berpikir rasional.
Menjelaskan kepada klien untuk membuang pikiran yang mengganggu, terapis pun berusaha menjelaskan kepada klien bahwa sama halnya dalam kehidupan nyata, kalau kita tidak mengganggu maka kita tidak akan diganggu.
2.      Terapi kognitif
Terapis berusaha memberi wawasan baru mengenai pocong tidak seperti yang dibayangkan misal menakutkan, menyeramkan. Dengan cara menyampaikan kepada klien bahwa hanya berupa mayat yang menggunakan busana putih. Disamping itu terapis juga memberi wawasan baru kepada klien lagi bahwa setiap klien bertemu dengan gambar pocong anggap saja bahwa klien hanya melihat sosok manusia yang menggunakan pakaian putih.
3.      Pelatihan keterampilan Coping Kognitif
Terapis memberikan cara agar klien tidak takut terhadap gambar pocong secara berlebihan dengan membayangkan bahwa gambar yang dilihat adalah gambar orang terdekat sedang menggunakan baju putih dengan bagian atas diikat.

Disamping penggunaan tiga (3) prosedur modifikasi perilaku kognitif tersebut, kelompok juga menggunakan gabungan teknik desentisisasi Vivo dan desentisisasi sistematis.
Tahap –tahap yang dilakukan oleh kelompok untuk membantu klien mengatasi/ mengurangi ketakutan terhadap gambar pocong adalah :
1.      Dengan menggunakan desentisisasi vivo, adalah teknik dimana klien secara berangsur-angsur mendekati atau secara berangsur-angur dihadapkan pada stimulus nyata yang menimbulkan ketakutan. Dalam pelaksanaannya terapis memberikan gambar pocong kepada klien secara langsung dan jelas untuk mengetahui sejauh mana klien benar-benar takut terhadap gambar pocong. Dan respon klien menunjukkan sikap dan tingkah laku klien yang sangat takut dan tidak adaptif. Maka, penguji menggunakan teknik lain agar klien dapat belajar dan menggunakan pola pikir secara bertahap dan usaha sadar yaitu, teknik desentisisasi sistematis.
2.      Selanjutnya kelompok menggunakan teknik ke-dua, yaitu teknik desentisisasi sistematis. Dimana dalam teknik desentisisasi ini terdapat beberapa tahap, namun dalam pendekatan ini kami hanya menggunakan beberapa diantaranya saja, yaitu :
a.       Rasional perilaku
b.      Identifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan
c.       Konstruksi hierarki
d.      Seleksi dan latihan respon tandingan
e.       Asesmen imajineri
f.       Visualisasi

E.     KESIMPULAN DAN SARAN

     Kesimpulan dalam modifikasi perilaku-kognitif oleh kelompok kami adalah :
Berdasarkan phobia yang dialamai oleh klien yaitu phobia terhadap gambar pocong, modifikasi perilaku kognitif dilakukan dengan menggunakan prosedur modifikasi perilaku-kognitif dan teknik desentisisasi (Vivo) serta ditambah dengan teknik desentisisasi sistematis.Teknik disentisisasi Vivo ditambahi dengan respon tandingan, yaitu klien membayangkan objek yang menarik (pacar). Tahap pelaksanaan dalam teknik modifikasi ini, kita berikan asessment imajinery, yaitu klien diperintahkan untuk mengkhayalkan dia ditempat yang menurutnya nyaman, sehingga kecemasana saat akan melihat gambar pocong  berkurang. Kelompok bermaksud menggabungkan dua teknik antara desentisisasi sistematis dan desentisisasi vivo yang mana saling mengaitkan kelebihan dan kekurangan masing- masing teknik.
Saran dalam modifikasi perilaku-kognitif oleh kelompok kami yaitu :
1.    Saran untuk klien
a.    Diharapkan klien dapat mengontrol emosi (ketakutan berlebih) terhadap gambar pocong dengan menggunakan teknik cognitive restructuring, terapi kognitif, coping kognitif serta desentisisasi sepert yang telah diberikan oleh terapis
b.    Diharapkan Adanya Konsistensi Dan Komitmen (Usaha Sadar Dari Klien) Dan Keinginan Untuk Mengembalikan Ketakutan Berlebih Terhadap Objek Yang Ditakuti
2.    Saran Untuk Kelompok Sebagai Terapis
a.    Terapis Melaksanakan Proses Modifikasi Sesuai Prosedur Dalam Teori Yang Ada Yaitu Menggunakan Prosedur Modifikasi Perilaku-Kognitif Dengan Kesungguhan
b.     Tugas Penting Dari Seorang Terapis Adalah Menolong Klien Untuk Memahami Cara Klien Membentuk Dan Menafsirkan Realitas, Kemampuan Memahami Pengalaman Klien 

1 komentar:

  1. boleh bisa shering tentang CBM saya lagi nyari bahan referensi utuk tesis sya

    BalasHapus