KASUS COGNITIVE BEHAVIOUR MODIFICATION
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Tidak sedikit orang yang mengalami ketakutan berlebih (phobia),
kecemasan dan segala perilaku yang tidak adaptif terhadap
suatu hal. Sebut saja mereka yang memiliki
ketakutan berlebih terhadap ketinggian,
phobia terhadap hewan-hewan tertentu bahkan terhadap benda mati sekalipun.
Dalam hal ini kelompok membahas mengenai ketakutan berlebih terhadap gambar
pocong. Klien yang menunjukkan perilaku tidak adaptif dengan mimik ketakutan,
menjerit dan segala perilaku berlebihan yang lain. Oleh karena itu kelompok kami melakukan modifikasi perilaku-kognitif terhadap klien, agar dapat mengurangi perilaku
tidak adaptifnya sehingga secara
otomatis dapat menghilangkan phobia tersebut. Teknik/
prosedur yang digunakan diantaranya :
1.
Cognitive
restructuring
Yaitu perilaku kognitif
dengan berpikir, pernyataan diri/ self statement, dan pembentukan self talk
positif (dimana hasil pemikiran subjek/klien terhadap kecemasan atau ketakutan
yang dialami diarahkan untuk menjadi lebih positif)
2.
Terapi
kognitif
Digunakan untuk membantu individu merubah pikiran-pikiran
yang menyimpang atau self-talk.
3.
Pelatihan
keterampilan Coping Stres
Terapis
mengajarkan klien self-statement yang spesifik yang dapat mereka buat
pada suatu situasi yang bermasalah untuk mengembangkan tingkah laku mereka atau
mempengaruhi perilaku mereka pada situasi.
Disamping
penggunaan tiga (3) prosedur modifikasi perilaku kognitif tersebut, kelompok
juga menggunakan gabungan teknik desentisisasi
Vivo dan desentisisasi sistematis.
Meichenbaum yang
merupakan seorang tokoh
yang berpengaruh di
dalam modifikasi perilaku-kognitif
(Ivey, 1993) mengemukakan
pandangannya bahwa modifikasi perilaku-kognitif
dilakukan berkenaan untuk menolong klien mendefinisikan problem kognitif dan
perilakunya, dengan mengembangkan kognisi, emosi, perubahan perilaku dan mencegah
kambuh kembali.
Adapun asumsi yang mendasari
modifikasi perilaku kognitif adalah:
1. Kognisi
yang tidak adaptif mengarah pada pembentukan tingkah laku yang tidak adaptif
pula
2. Peningkatan diri
yang adaptif dapat ditempuh melalui
peningkatan pemikiran yang
positif
3. Klien
dapat mempelajari peningkatan pemikiran mengenai sikap,
pikiran, dan tingkah laku.
Jadi, dari penjelasan di atas, secara
singkat modifikasi perilaku-kognitif dapat diartikan sebagai suatu teknik yang
secara simultan berusaha memperkuat timbulnya
perilaku adaptif
dan memperlemah timbulnya
perilaku yang tidak
adaptif melalui pemahaman proses
internal yaitu aspek kognisi tentang pikiran yang kurang rasional dan upaya
pelatihan ketrampilan coping yang sesuai.
B.
PERMASALAHAN
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah
dikemukakan sebelumnya, maka pelaksanaan modifikasi perilaku – kognitif ini dimaksudkan untuk mengatasi/ mengurangi
ketakutan yang berlebih terhadap gambar pocong pada klien.
Harapan terapis dalam modifikasi perilaku ini adalah
:
1.
Terdapat
kepercayaan klien terhadap keberhasilan terapis dalam teknik modifikasi yang
akan diberikan untuk mengatasi phobianya
2.
Dapat
bermanfaat sebagai teknik yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku tidak
adaptif, misal ketakutan berlebih oleh klien, teriak dan cemas terhadap objek
yang ditakuti.
C. RANCANGAN
MODIFIKASI PERILAKU - KOGNITIF
Berikut
adalah prosedur yang digunakan dalam teknik modifikasi perilaku- kognitif,
diantaranya :
a.
Cognitive
Restructuring
Yaitu
perilaku kognitif dengan berpikir, pernyataan diri/ self statement, dan
pembentukan self talk positif (dimana hasil pemikiran subjek/klien terhadap
kecemasan atau ketakutan yang dialami diarahkan untuk menjadi lebih positif)
Meliputi 3 langkah dasar yaitu:
- Membantu
klien mengidentifikasi perilaku-perilaku dan situasi yang tidak
menyenangkan yang terjadi dengan menanyakan
penyebab dan situasi penyebab ketakutan berlebih muncul.
- Membantu
klien mengidentifikasi respon emosional, mood yang kurang menyenangkan,
atau perilaku masalah yang mengikuti pikiran-pikiran yang mengganggu
- Membantu
klien untuk berhenti berpikir tentang pikiran-pikiran yang mengganggu atau
membantu klien berpikir lebih rasional atau pikiran yang diinginkan.
|
No.
|
Situasi
|
Pikiran/ gagasan
|
Hasil Perilaku/ emosional
|
Pikiran Rasional
|
|
1.
|
Takut
ketika melihat gambar pocong
|
“Oh
Tuhan Yesus!gak mau, gak mau. Aku takut rekk, wes-wes matanya ngawasi aku”.
|
Tegang,
tidak tenang, menjerit, takut berlebihan
|
gambar pocong itu hanya sebuah bentuk
dari benda mati yang bukan wujud langsung. Dan pocong gak ganggu orang kok..
|
b. Terapi
kognitif
Sebagai bagian dari
treatment untuk depresi, namun dalam modifikasi perilaku ini digunakan untuk
membantu individu merubah pikiran-pikiran yang menyimpang atau self-talk.
Dapat
dilakukan dengan menggunakan cognitive restructuring untuk membantu
individu merubah cara berpikir yang menyimpang.
c. Pelatihan Keterampilan Coping Kognitif
Terapis mengajarkan klien self-statement yang
spesifik yang dapat mereka buat pada suatu situasi yang bermasalah untuk
mengembangkan tingkah laku mereka atau mempengaruhi perilaku mereka pada
situasi yang menimbulkan ketakutan berlebih.
D.
PEMBAHASAN
Dalam
modifikasi perilaku- kognitif ini, kelompok menggunakan prosedur-prosedur
modifikasi perilaku-kognitif :
1. Cognitive
restructuring
Yaitu membangun perilaku
kognitif dengan berpikir, self statement, dan self talk. Dengan cara :
a. Membantu
klien mengidentifikasi perilaku dan situasi yang tidak menyenangkan. Kelompok
menggali informasi terlebih dahulu dengan menanyakan apa penyebab timbulnya
ketakutan berlebih terhadap gambar pocong dan situasi seperti apa yang
menimbulkan takut terhadap gambar pocong . Klien memaparkan bahwa dia takut
dengan gambar pocong berawal dari melayat untuk tetangganya yang beragama
islam, sejak saat itu klien selalu membayangkan sosok hantu adalah sesosok
pocong. Hal itu dimulai saat dia dalam
situasi kesendirian (loneliness) di rumah, klien selalu membayangkan ada
sosok pocong didekatnya, sehingga terbawa mimpi dengan diperkuat oleh klien
yang melihat film yang terdapat cerita pocong di dalamnya. Dengan latar
belakang tersebut sampai sebelum dilakukan modifikasi klien merasakan ketakutan
berlebih terhadap sesuatu yang menggambarkan adanya sosok pocong.
b. Membantu
mengidentifikasi respon emosional yang mengakibatkan pikiran mengganggu.
Terapis berusaha
memaparkan respon berlebih yang ditunjukkan oleh klien saat melihat gambar
pocong, misal ketakutan berlebih, teriak dan cemas oleh klien. Sehingga klien
menyadari sikap/ perilaku tidak adaptif.
c. Membantu
klien untuk menghilangkan pikiran mengganggu dan lebih berpikir rasional.
Menjelaskan kepada
klien untuk membuang pikiran yang mengganggu, terapis pun berusaha menjelaskan
kepada klien bahwa sama halnya dalam kehidupan nyata, kalau kita tidak
mengganggu maka kita tidak akan diganggu.
2. Terapi
kognitif
Terapis berusaha
memberi wawasan baru mengenai pocong tidak seperti yang dibayangkan misal menakutkan,
menyeramkan. Dengan cara menyampaikan kepada klien bahwa hanya berupa mayat
yang menggunakan busana putih. Disamping itu terapis juga memberi wawasan baru
kepada klien lagi bahwa setiap klien bertemu dengan gambar pocong anggap saja
bahwa klien hanya melihat sosok manusia yang menggunakan pakaian putih.
3. Pelatihan
keterampilan Coping Kognitif
Terapis memberikan cara
agar klien tidak takut terhadap gambar pocong secara berlebihan dengan
membayangkan bahwa gambar yang dilihat adalah gambar orang terdekat sedang
menggunakan baju putih dengan bagian atas diikat.
Disamping
penggunaan tiga (3) prosedur modifikasi perilaku kognitif tersebut, kelompok
juga menggunakan gabungan teknik desentisisasi Vivo dan desentisisasi
sistematis.
Tahap
–tahap yang dilakukan oleh kelompok untuk membantu klien mengatasi/ mengurangi
ketakutan terhadap gambar pocong adalah :
1. Dengan
menggunakan desentisisasi vivo, adalah teknik dimana klien secara berangsur-angsur mendekati atau secara
berangsur-angur dihadapkan pada stimulus nyata yang menimbulkan ketakutan.
Dalam pelaksanaannya terapis memberikan gambar pocong kepada klien secara
langsung dan jelas untuk mengetahui sejauh mana klien benar-benar takut
terhadap gambar pocong. Dan respon klien menunjukkan sikap dan tingkah laku klien
yang sangat takut dan tidak adaptif. Maka, penguji menggunakan teknik lain agar
klien dapat belajar dan menggunakan pola pikir secara bertahap dan usaha sadar
yaitu, teknik desentisisasi sistematis.
2. Selanjutnya
kelompok menggunakan teknik ke-dua, yaitu teknik desentisisasi sistematis.
Dimana dalam teknik desentisisasi ini terdapat beberapa tahap, namun dalam
pendekatan ini kami hanya menggunakan beberapa diantaranya saja, yaitu :
a. Rasional
perilaku
b. Identifikasi
situasi yang menimbulkan kecemasan
c. Konstruksi
hierarki
d. Seleksi
dan latihan respon tandingan
e. Asesmen
imajineri
f. Visualisasi
E.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan dalam modifikasi perilaku-kognitif oleh kelompok kami
adalah :
Berdasarkan
phobia yang dialamai oleh klien yaitu phobia terhadap gambar pocong, modifikasi
perilaku kognitif dilakukan dengan menggunakan prosedur modifikasi
perilaku-kognitif dan teknik desentisisasi (Vivo) serta ditambah dengan teknik
desentisisasi sistematis.Teknik disentisisasi Vivo ditambahi dengan respon tandingan, yaitu klien
membayangkan objek yang menarik (pacar). Tahap pelaksanaan dalam teknik
modifikasi ini, kita berikan asessment
imajinery, yaitu klien diperintahkan untuk mengkhayalkan dia ditempat yang
menurutnya nyaman, sehingga kecemasana saat akan melihat gambar pocong berkurang. Kelompok bermaksud menggabungkan
dua teknik antara desentisisasi sistematis dan desentisisasi vivo yang mana
saling mengaitkan kelebihan dan kekurangan masing- masing teknik.
Saran dalam modifikasi
perilaku-kognitif oleh kelompok kami yaitu :
1.
Saran untuk klien
a.
Diharapkan klien dapat
mengontrol emosi (ketakutan berlebih) terhadap gambar pocong dengan menggunakan
teknik cognitive restructuring, terapi kognitif, coping kognitif serta
desentisisasi sepert yang telah diberikan oleh terapis
b.
Diharapkan Adanya
Konsistensi Dan Komitmen (Usaha Sadar Dari Klien) Dan Keinginan Untuk
Mengembalikan Ketakutan Berlebih Terhadap Objek Yang Ditakuti
2.
Saran Untuk Kelompok
Sebagai Terapis
a.
Terapis Melaksanakan Proses
Modifikasi Sesuai Prosedur Dalam Teori Yang Ada Yaitu Menggunakan Prosedur
Modifikasi Perilaku-Kognitif Dengan Kesungguhan
b.
Tugas Penting Dari Seorang Terapis Adalah
Menolong Klien Untuk Memahami Cara Klien Membentuk Dan Menafsirkan Realitas,
Kemampuan Memahami Pengalaman Klien
boleh bisa shering tentang CBM saya lagi nyari bahan referensi utuk tesis sya
BalasHapus