Rabu, 18 April 2012

makalah autis

A.   Pendahuluan
Proses pembelajaran dalam dunia pendidikan selalu menggunakan bahasa sebagai wadah penyampaian informasi maupun komunikasi (berbicara). Dalam proses pembelajaran sendiri, ada beberapa faktor utama yang menjadi penentu kesuksesan dalam proses pembelajaran. Faktor-faktor tersebut antara lain guru, siswa, materi dan komunikasi (berbicara). Guru bertindak sebagai pusat ilmu dan pemberi ilmu sedangkan murid sebagai penerima informasi (materi). Materi pengajaran merupakan faktor ketiga yakni  sebagai informasi atau ilmu yang diberikan oleh guru kepada siswa dan faktor terakhir dari proses ini adalah komunikasi (berbicara). Dimana komunikasi (berbicara) sangat berperan dalam proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena dalam proses pembelajaran komunikasi sebagai jembatan atau media interaksi antara guru dan siswa.
Melalui komunikasi, interaksi menjadi lebih bermakna dan dengan komunikasi pula guru dapat menyampaikan segala informasi atau ilmu baik secara verbal (melalui lisan) maupun secara non verbal (bahasa tubuh). Melihat betapa pentingnya peran komunikasi (berbicara) dalam proses pembelajaaran, maka hambatan komunikasi (berbicara) yang terkadang dialami siswa khususnya siswa yang mengalami gangguan autisme perlu mendapat perhatian khusus.
Anak autis merupakan anak yang mengalami gangguan perkembangan fungsi otak, yang ditandai dengan adanya kesulitan pada kemampuan interaksi sosial, komunikasi dengan lingkungan, perilaku dan adanya keterlambatan pada bidang akademis.usia awal anak autisme mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara baik dengan orang lain atau berinteraksi sosial. Pada bab ini, kelompok akan membahas tentang karakteristik dan pembelajaran bagi anak dengan autisme.






B.   Pembahasan

a.      Karakteristik Anak dengan Autisme
Karakteristik anak autis merupakan perilaku khas yang meliputi pengetahuan, sikap atau ucapan yang sering ditunjukan jika dihadapkan pada suatu objek atau situasi tertentu yang dapat mendorong munculnya perilaku tersebut. Ada beberapa karakteristik anak dengan autisme:
1.      Karakteristik Kognitif dan Akademik
Anak-anak dengan autisme sering memeiliki pola yang tidak tepat dari kekuatan dan kelemahan kognitif danm akademiknya. Meskipun anak-anak dengan autisme memiliki beberapa karakteristik dengan siswa yang memiliki kelainan lainnya, gambaran uniknya membuat mereka terpisah dan kadang-kadang memunculkan tantangan yang signifikan. Perbedaan karakteristik tersebut secara garis besar dalam memori berputar, theory mind, pemecahan masalah dan motivasi.
·         Memory berputar (rote memory)
Yaitu kemampuan mengingat sesuatu tanpa perlu mengetahui apa yanmg dimaksudnya. Meskipun memori berputar biasanya dipertimbangkan sebagai suatu aset, namun hal itu akan berbahaya bagi anak-anak dengan kelainan autisme. Sebab, dengan mengembangkan ketrampilan memori berputar dengan baik, siswa dengan kelainan ini dapat memberikan kesan bahwa mereka mengerti konsep tertentu padahal kenyataannya tidak demikian.
·         Teori pikiran (theory of mind)
Salah satu inti kurangnya kognitif pada anak dengan autisme adalah theory mind, autisme didasarkan pada kepercayaan bahwa orang-orang dengan kelainan ini tidak dapa memahami betul bahwa orang lain mempunyai pikiran dan sudut pandang sendiri dalam menghadapi tantangan dan emosi orang lain. Kesulitan dengan teori mind ini dapat terlihat bketika individu dengan kelainan autisme mempunyai kesulitan menjelaaskan perilaku yang dimilikinya, memperkirakan emosi dan perilaku orang lain, memahami pandangan orang lain, memahami bagaimana perilaku berpengaruh terhadap pikiran dan perasaan orang lain, berpartisipasi dalam pembicaraan dan membedakan kenyataan dari khayalan (Myles & Southwick, 1999; dalam buku Sujarwanto, 2010).
·         Pemecahan masalah
Banyak siswa dengan autisme mempunyai akses hanya satu strategi pemecahan masalah untuk satu situasi tertentu dan mempergunakannya secara tetap meskipun jika ada perubahan situasi, dan dia tidak peduli apakah itu berhasil atau tidak.
·         Motivasi
Siswa dengan kelainan ini umumnya tertarik hanya pada sejumlah kecil aktifitas atau penghargaan. Kadang-kadang para ahli dan orang tua berusaha menemukan apa yang terjadi ketertarikannya, tetapi tanpa ada peringatan, siswa-siswa seperti ini juga dapat berubah sama sekali kesukaannya. Faktor tersebut membuat motivasi anak-anak dengan autisme tantangan yang terus menerus (Olley, 1992; dalam buku Sujarwanto, 2010)

2.      Karakteristik Sosial dan Emosi
·         Kelainan bahasa
Banyak siswa dengan autisme mempunyai kesulitan yang tidak biasanya dalam perkembangan bahasa. Hal ini berdampak negatif terhadap kemampuan dirinya untuk berinteraksi baik dengan teman-temannya.

·         Maksud berkomunikasi
Merupakan adanya masalah yang berhubungan dengan maksud berkomunikasi. Dimana anak-anak seperti ini tidak melakukan komunikasi untuk menarik perhatian orang lain, dan mereka mungkin tidak berkomunikasi untuk tujuan sosial (Scheuermann & Webber, 2002; dalam buku Sujarwanto, 2010)
·         Masalah bahasa lainnya
Siswa autisme yang tergolong asperger syndrome sering mempunyai sifat yang tidak semestinya dalam ketrampilan berbahasa mereka.
·         Ketidakmatangan
Karena banyak kelainan emosi dan komunikasi yang dialami, anak-anak dengan autisme sering membuat pernyataan jangan memberi respon yang tepat terhadap pertanyaan orang lain. Mereka juga mengalami frustasi ketika komunikasi mereka tidak terlaksana sesuai yang dimaksud. Akibatnya siswa-siswa seperti ini sering kelihatan naif atau tidak matang.

3.      Karakteristik Perilaku
·         Pemilihan rangsangan yang  berlebihan
Yaitu terjadi ketika anak dengan autisme memperhatikan hanya satu objek atau benda untuk memahami sesuatu, atau dia hanya mempunyai satu pola merespon dengan sedikit mempergunakan pengetahuannya.
·         Perilaku merangsang diri
Merupakan sesuatu yang umum pada siswa-siswa autisme. Biasanya dilakukan dalam bentuk menggerak-gerakkan badan, menepuk-nepuk tangan dan banyak pola perilaku mengulang dan stereotip lainnya yang muncul dengan tidak mempunyai maksud yang jelas. Perilaku ini cenderung menjadikan stigma bagi anak-anak autisme.
·         Kesulitan menggeneralisir
Tantangan utama yang dihadapi oleh para pendidik dan mereka yang bekerja dengan anak-anak autis, adalah berhubungan dengan kesulitan mereka mengalihkan informasi terhadap setting, individu, dan kondisi lainnya yang baru. Akibatnya, anak yang mampu mengerjakan tugas di suatu kelas, tidak dapat diasumsikan secara otomatis dapat melakukan dengan benar tugas yang sama di kelas yang lainnya.
·         Isu-isu sensoris
Siswa dengan autisme mengalamiu banyak isu sehubungan dengan proses sensoris. Mereka biasanya mempunyai kesulitan dengan indera-indera : perabaan, keseimbangan, prospioceptis, penglihatan, perasa dan penciuman. Karena indera pendengaran cenderung yang paling kuat pada siswa dengan autisme, maka alat bantu visual sering dipergunakan untuk membantu dalam belajar.

Menurut, Yuniar ( 2002 ); dalam buku Pamuji, 2007, menyatakan karateristik anak nautiosme disebut juga dengan trias autistik, meliputi 3 gangguan:
1.      Gangguan atau keanehan dalam berinteraksi dengan lingkungan ( orang sekitar, objek, dan situasi ).
2.         Gangguan dalam kemampuan berkomunikasi verbal dan non-verbal
3.      Gangguan atau keanehan dalam berprilaku motorik, minat yang terbatas, dan respon sensoris yang kurang memadai



Beberapa Ciri-ciri anak-anak autistik yang dapat diamati:
1.      Perilaku
*      Cuek terhadap lingkungan
*      Perilaku tak terarah, mondar-mandir, lari-lari, memanjat, berputar-putar, melompat-lompat dan lain-lain
*      Kelekatan terhadap benda tertentu
*      Terpukau pada benda yang berputar atau benda yang bergerak
*      Tantrum
*      Obsessive-Compulsive Behavior
2.      Interaksi Sosial
*      Tidak mau menatap mata
*      Tidak menghiraukan bila di panggil orang lain
*      Tidak mau bermain dengan teman sebaya
*      Asik bermain dengan diri sendiri
*      Tidak memiliki empati
3.      Komunikasi dan bahasa
*      Terlambat bicara
*      Tidak suka berkomunikasi secara verbal dan non verbal
*      Berbicara dengan bahasa yang tidak dapat dipahami
*      Echolalia
*      Tidak dapat memahami pembicaraan orang lain











Terapi bagi anak autistik dimulai sebelum usia 5 tahun, puncaknya terjadi pada usia 2-3 tahun. Terdapat 10 Jenis Terapi/penanganan bagi Anak Autis:

1)      Applied Behavioral Analysis (ABA)

ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.

2)      Terapi Wicara

Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong. Beberapa metode non verbal yang banyak digunakan untuk komunikasi
a.       PECS dan COMPIC: kartu bergambar yang digunakan untuk membantu anak mengekspresikan diri menyusun kalimat sederhana dan dan menjawab pertanyaan.
b.      Facilitated Communication: anak diajarkan menunjuk huruf-hruf, tujuannya agar melatih motorik tangan anak.
c.       Sign Language/bahasa isyarat: cara berkomunikasi menggunakan bahasa non verbal, seperti gerakan tangan, badan, dan ekspresi wajah.




3)      Terapi Okupasi

Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.

4)      Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.

5)      Terapi Sosial

Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.

6)      Terapi Bermain

Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7)      Terapi Perilaku.

Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,

8)      Terapi Visual

Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.

9)      Terapi Biomedik

Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).


Terapi Lumba-lumba bagi Penyandang autisme, ( dalam buku Wardhani Fauzia, Yurike, 2009 )
-          Dolphin Assisted Therapy ( DAT ), adalah terapi yang digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan kemampuan motorik pada anak dan orang dewasa dengan diagnosis gangguan perkembanagan fisik dan emosi, seperti autisme, dan retardasi mental. Terapi lumba-lumba berguna untuk meningkatkan kemampuan berkonsentrasi pada anak autis, dan merubah perilaku berinteraksi mereka. Manfaatnya mengasah perhatian ( melalui gelombang sonar yang dikeluarkan lumba-lumba ), membantu anak berekspresi  ( membuat anak bersahabat dengan lumba-lumba dan mengeluarkan ekspresi senang ), meredam kecenderungan hyperaktif, melatih motorik, dan memaham perintah.

b.      Pembelajaran bagi anak dengan autisme
Strategi pembelajaran yang telah ditemukan dan efektif bagi anak-anak dengan autrisme yaitu :
*      Primming
Primming terjadi ketika orang tua, para ahli, guru, atau teman sebaya meninjau bersama-sama anak auitis baik siang, malam, maupun pagi sebelum pelaksaan kegiatan dimulai bahan-bahan yang akan dipergunakan dalam pembelajaran. Primming dilakukan hanya beberapa saat sebelum kegiatan dilaksanakan. Primming akan lebih efektif ketika hal itu dibangun pada diri anak secara rutin. Terakhir, sesi primming hendaknya dilakukan dalam waktu yang pendek dengan memberikan gambaran singkat tentang tugas yang akan dilakukan hari itu dalam waktu 10-15 menit (Myless &Adreon, 2001; dalam buku Sujarwanto, 2010).
*      Discrete Trial Training
Merupakan pendekatan khusus yang tinggi yang memerlukan komitmen waktu yang signifikandan sering diwasi oleh guru khusus kadang-kadang orang tua. Secara umum dilaksanakan anak-anak prasekolah, praktek ini mengikuti pola dasar dimana guru memberikan anjuran agar siswa hadir, memberikan intruksi kepada siswa untuk melakukan sesuatu, dan akhirnya memberikan penghargaan kepada siswa untuk perilaku yang dilakukan (Lovaas, 1987; dalam buku Sujarwanto, 2010).
*      Prompting
Merupakan suatu petunjuk yang dirancang untuk membuat siswa melakukan perilaku khusus, hal itu efektif dalam meningkatkan prestasi siswa. Prompt sering dipergunakan oleh para ahli yang bekerja bersama anak dengan autisme dan prompt beranekaragam berdasarkan intrusiveness. Prompt membantu siswa belajar tanpa mengulang berbuat kesalahan.
*      Konsep Picture Exchange Communication System ( PECS)
PECS (Picture Exchange Communication System) adalah suatu pendekatan untuk melatih komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal (Bondy, 1994:2). Awalnya PECS ini digunakan untuk siswa-siswa pra sekolah yang mengalami autisme dan kelainan lainnya yang berkaitan dengan gangguan komunikasi. Siswa yang menggunakan PECS ini adalah mereka yang perkembangan bahasanya tidak menggembirakan dan mereka tidak memiliki kemauan untuk berkomunikasi dengan orang lain.










Daftar pustaka

Djadja Rahardja dan Sujarwanto. 2010. Pengantar Pendidikan Luar Biasa ( Orthopedagogik ). Surabaya: Unesa Press
Pamuji.  2007. Model Terapi Terpadu bagi Anak Autisme. Jakarta: Departement Pendidikan Nasional.
Peters, Theo, 2004. Panduan Autisme Terlengkap. Jakarta: Dian Rakyat
Wardhani Fauzia, Yurike. 2009. Apa dan Bagaimana Autisme, Terapi Medis dan Alternatif. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Ginanjar, Adriana S. 2008. Menjadi Orang Tua Istimewa. Jakarta: PT. Dian Rakyat


cognitive behaviour modifikasi




KASUS COGNITIVE BEHAVIOUR MODIFICATION

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Tidak sedikit orang  yang mengalami ketakutan berlebih (phobia), kecemasan dan segala perilaku yang tidak adaptif  terhadap suatu hal. Sebut saja mereka yang memiliki ketakutan berlebih  terhadap ketinggian, phobia terhadap hewan-hewan tertentu bahkan terhadap benda mati sekalipun. Dalam hal ini kelompok membahas mengenai ketakutan berlebih terhadap gambar pocong. Klien yang menunjukkan perilaku tidak adaptif dengan mimik ketakutan, menjerit dan segala perilaku berlebihan yang lain. Oleh karena itu kelompok kami melakukan modifikasi perilaku-kognitif terhadap klien, agar dapat mengurangi perilaku tidak adaptifnya sehingga secara otomatis dapat menghilangkan phobia tersebut. Teknik/ prosedur yang digunakan diantaranya :
1.      Cognitive restructuring
Yaitu perilaku kognitif dengan berpikir, pernyataan diri/ self statement, dan pembentukan self talk positif (dimana hasil pemikiran subjek/klien terhadap kecemasan atau ketakutan yang dialami diarahkan untuk menjadi lebih positif)
2.      Terapi kognitif
Digunakan untuk membantu individu merubah pikiran-pikiran yang menyimpang atau self-talk.
3.      Pelatihan keterampilan Coping Stres
Terapis mengajarkan klien self-statement yang spesifik yang dapat mereka buat pada suatu situasi yang bermasalah untuk mengembangkan tingkah laku mereka atau mempengaruhi perilaku mereka pada situasi.
Disamping penggunaan tiga (3) prosedur modifikasi perilaku kognitif tersebut, kelompok juga menggunakan gabungan teknik desentisisasi Vivo dan desentisisasi sistematis.
Meichenbaum   yang   merupakan   seorang  tokoh   yang   berpengaruh   di   dalam modifikasi perilaku-kognitif     (Ivey,   1993) mengemukakan pandangannya bahwa  modifikasi perilaku-kognitif dilakukan berkenaan untuk menolong klien mendefinisikan problem kognitif dan perilakunya, dengan mengembangkan kognisi, emosi, perubahan perilaku dan mencegah kambuh kembali.
         Adapun asumsi yang mendasari modifikasi perilaku kognitif adalah:
1.      Kognisi yang tidak adaptif mengarah pada pembentukan tingkah laku yang tidak adaptif pula
2.      Peningkatan  diri  yang adaptif dapat ditempuh melalui   peningkatan pemikiran yang  positif
3.      Klien dapat   mempelajari     peningkatan   pemikiran       mengenai     sikap,   pikiran,  dan tingkah laku.
         Jadi, dari penjelasan di atas, secara singkat modifikasi perilaku-kognitif dapat diartikan sebagai suatu teknik yang secara simultan berusaha memperkuat timbulnya
perilaku   adaptif   dan   memperlemah   timbulnya   perilaku   yang   tidak   adaptif   melalui pemahaman proses internal yaitu aspek kognisi tentang pikiran yang kurang rasional dan upaya pelatihan ketrampilan coping yang sesuai.

B.     PERMASALAHAN

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka pelaksanaan modifikasi perilaku – kognitif  ini dimaksudkan untuk mengatasi/ mengurangi ketakutan yang berlebih terhadap gambar pocong pada klien.
Harapan terapis dalam modifikasi perilaku ini adalah :
1.      Terdapat kepercayaan klien terhadap keberhasilan terapis dalam teknik modifikasi yang akan diberikan untuk mengatasi phobianya
2.      Dapat bermanfaat sebagai teknik yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku tidak adaptif, misal ketakutan berlebih oleh klien, teriak dan cemas terhadap objek yang ditakuti.
C.     RANCANGAN MODIFIKASI PERILAKU - KOGNITIF
Berikut adalah prosedur yang digunakan dalam teknik modifikasi perilaku- kognitif, diantaranya :
a.      Cognitive Restructuring
       Yaitu perilaku kognitif dengan berpikir, pernyataan diri/ self statement, dan pembentukan self talk positif (dimana hasil pemikiran subjek/klien terhadap kecemasan atau ketakutan yang dialami diarahkan untuk menjadi lebih positif)
Meliputi 3 langkah dasar yaitu:
  1. Membantu klien mengidentifikasi perilaku-perilaku dan situasi yang tidak menyenangkan yang terjadi dengan menanyakan penyebab dan situasi penyebab ketakutan berlebih muncul.
  2. Membantu klien mengidentifikasi respon emosional, mood yang kurang menyenangkan, atau perilaku masalah yang mengikuti pikiran-pikiran yang mengganggu
  3. Membantu klien untuk berhenti berpikir tentang pikiran-pikiran yang mengganggu atau membantu klien berpikir lebih rasional atau pikiran yang diinginkan.
No.
Situasi
Pikiran/ gagasan
Hasil Perilaku/ emosional
Pikiran Rasional
1.
Takut ketika melihat gambar pocong
“Oh Tuhan Yesus!gak mau, gak mau. Aku takut rekk, wes-wes matanya  ngawasi aku”.
Tegang, tidak tenang, menjerit, takut berlebihan
gambar pocong itu hanya sebuah bentuk dari benda mati yang bukan wujud langsung. Dan pocong gak ganggu orang kok..

b. Terapi kognitif
Sebagai bagian dari treatment untuk depresi, namun dalam modifikasi perilaku ini  digunakan untuk membantu individu merubah pikiran-pikiran yang menyimpang atau self-talk. Dapat dilakukan dengan menggunakan cognitive restructuring untuk membantu individu merubah cara berpikir yang menyimpang.
c. Pelatihan Keterampilan Coping Kognitif
Terapis mengajarkan klien self-statement yang spesifik yang dapat mereka buat pada suatu situasi yang bermasalah untuk mengembangkan tingkah laku mereka atau mempengaruhi perilaku mereka pada situasi yang menimbulkan ketakutan berlebih.

D.  PEMBAHASAN
Dalam modifikasi perilaku- kognitif ini, kelompok menggunakan prosedur-prosedur modifikasi perilaku-kognitif :
1.      Cognitive restructuring
Yaitu membangun perilaku kognitif dengan berpikir, self statement, dan self talk. Dengan cara :
a.       Membantu klien mengidentifikasi perilaku dan situasi yang tidak menyenangkan. Kelompok menggali informasi terlebih dahulu dengan menanyakan apa penyebab timbulnya ketakutan berlebih terhadap gambar pocong dan situasi seperti apa yang menimbulkan takut terhadap gambar pocong . Klien memaparkan bahwa dia takut dengan gambar pocong berawal dari melayat untuk tetangganya yang beragama islam, sejak saat itu klien selalu membayangkan sosok hantu adalah sesosok pocong. Hal itu dimulai saat dia dalam  situasi kesendirian (loneliness) di rumah, klien selalu membayangkan ada sosok pocong didekatnya, sehingga terbawa mimpi dengan diperkuat oleh klien yang melihat film yang terdapat cerita pocong di dalamnya. Dengan latar belakang tersebut sampai sebelum dilakukan modifikasi klien merasakan ketakutan berlebih terhadap sesuatu yang menggambarkan adanya sosok pocong.
b.      Membantu mengidentifikasi respon emosional yang mengakibatkan pikiran mengganggu.
Terapis berusaha memaparkan respon berlebih yang ditunjukkan oleh klien saat melihat gambar pocong, misal ketakutan berlebih, teriak dan cemas oleh klien. Sehingga klien menyadari sikap/ perilaku tidak adaptif.
c.       Membantu klien untuk menghilangkan pikiran mengganggu dan lebih berpikir rasional.
Menjelaskan kepada klien untuk membuang pikiran yang mengganggu, terapis pun berusaha menjelaskan kepada klien bahwa sama halnya dalam kehidupan nyata, kalau kita tidak mengganggu maka kita tidak akan diganggu.
2.      Terapi kognitif
Terapis berusaha memberi wawasan baru mengenai pocong tidak seperti yang dibayangkan misal menakutkan, menyeramkan. Dengan cara menyampaikan kepada klien bahwa hanya berupa mayat yang menggunakan busana putih. Disamping itu terapis juga memberi wawasan baru kepada klien lagi bahwa setiap klien bertemu dengan gambar pocong anggap saja bahwa klien hanya melihat sosok manusia yang menggunakan pakaian putih.
3.      Pelatihan keterampilan Coping Kognitif
Terapis memberikan cara agar klien tidak takut terhadap gambar pocong secara berlebihan dengan membayangkan bahwa gambar yang dilihat adalah gambar orang terdekat sedang menggunakan baju putih dengan bagian atas diikat.

Disamping penggunaan tiga (3) prosedur modifikasi perilaku kognitif tersebut, kelompok juga menggunakan gabungan teknik desentisisasi Vivo dan desentisisasi sistematis.
Tahap –tahap yang dilakukan oleh kelompok untuk membantu klien mengatasi/ mengurangi ketakutan terhadap gambar pocong adalah :
1.      Dengan menggunakan desentisisasi vivo, adalah teknik dimana klien secara berangsur-angsur mendekati atau secara berangsur-angur dihadapkan pada stimulus nyata yang menimbulkan ketakutan. Dalam pelaksanaannya terapis memberikan gambar pocong kepada klien secara langsung dan jelas untuk mengetahui sejauh mana klien benar-benar takut terhadap gambar pocong. Dan respon klien menunjukkan sikap dan tingkah laku klien yang sangat takut dan tidak adaptif. Maka, penguji menggunakan teknik lain agar klien dapat belajar dan menggunakan pola pikir secara bertahap dan usaha sadar yaitu, teknik desentisisasi sistematis.
2.      Selanjutnya kelompok menggunakan teknik ke-dua, yaitu teknik desentisisasi sistematis. Dimana dalam teknik desentisisasi ini terdapat beberapa tahap, namun dalam pendekatan ini kami hanya menggunakan beberapa diantaranya saja, yaitu :
a.       Rasional perilaku
b.      Identifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan
c.       Konstruksi hierarki
d.      Seleksi dan latihan respon tandingan
e.       Asesmen imajineri
f.       Visualisasi

E.     KESIMPULAN DAN SARAN

     Kesimpulan dalam modifikasi perilaku-kognitif oleh kelompok kami adalah :
Berdasarkan phobia yang dialamai oleh klien yaitu phobia terhadap gambar pocong, modifikasi perilaku kognitif dilakukan dengan menggunakan prosedur modifikasi perilaku-kognitif dan teknik desentisisasi (Vivo) serta ditambah dengan teknik desentisisasi sistematis.Teknik disentisisasi Vivo ditambahi dengan respon tandingan, yaitu klien membayangkan objek yang menarik (pacar). Tahap pelaksanaan dalam teknik modifikasi ini, kita berikan asessment imajinery, yaitu klien diperintahkan untuk mengkhayalkan dia ditempat yang menurutnya nyaman, sehingga kecemasana saat akan melihat gambar pocong  berkurang. Kelompok bermaksud menggabungkan dua teknik antara desentisisasi sistematis dan desentisisasi vivo yang mana saling mengaitkan kelebihan dan kekurangan masing- masing teknik.
Saran dalam modifikasi perilaku-kognitif oleh kelompok kami yaitu :
1.    Saran untuk klien
a.    Diharapkan klien dapat mengontrol emosi (ketakutan berlebih) terhadap gambar pocong dengan menggunakan teknik cognitive restructuring, terapi kognitif, coping kognitif serta desentisisasi sepert yang telah diberikan oleh terapis
b.    Diharapkan Adanya Konsistensi Dan Komitmen (Usaha Sadar Dari Klien) Dan Keinginan Untuk Mengembalikan Ketakutan Berlebih Terhadap Objek Yang Ditakuti
2.    Saran Untuk Kelompok Sebagai Terapis
a.    Terapis Melaksanakan Proses Modifikasi Sesuai Prosedur Dalam Teori Yang Ada Yaitu Menggunakan Prosedur Modifikasi Perilaku-Kognitif Dengan Kesungguhan
b.     Tugas Penting Dari Seorang Terapis Adalah Menolong Klien Untuk Memahami Cara Klien Membentuk Dan Menafsirkan Realitas, Kemampuan Memahami Pengalaman Klien